Bacaan seputar menulis dan literasi
Tips praktis dan cerita seputar dunia menulis, untuk menemanimu satu langkah lebih dekat menerbitkan buku.
Menjaga Konsistensi Menulis di Tengah Kesibukan
Bukan soal punya banyak waktu, tapi soal membuat waktu kecil jadi konsisten.
Estimasi waktu baca: 4 menit

“Kalau nanti sudah agak senggang, aku mau mulai menulis.”
Pernah mengatakan hal seperti itu?
Masalahnya, waktu senggang sering kali tidak datang dengan sendirinya. Pekerjaan selesai, ada urusan rumah. Urusan rumah selesai, ada pesan yang harus dibalas. Akhir pekan tiba, tubuh justru meminta istirahat.
Akhirnya, naskah tetap tersimpan di laptop. Ide masih ada, tetapi halaman baru tidak kunjung bertambah.
Padahal, menulis tidak selalu membutuhkan waktu berjam-jam. Yang lebih penting adalah memberikan ruang kecil untuk menulis secara konsisten.
Sebuah artikel dari PLOS Computational Biology tentang produktivitas menulis bahkan menyarankan penulis memiliki waktu menulis yang sudah ditentukan, bukan sekadar menunggu waktu luang. Gagasan ini sederhana, tetapi penting. Kalau menulis hanya dilakukan ketika kita sedang senggang, tulisan akan selalu bersaing dengan kesibukan lain.
Lalu, bagaimana membuatnya lebih realistis?
1. Mulai dari waktu yang benar-benar ada
Tidak punya dua jam? Tidak apa-apa.
Coba cari 15–30 menit yang memungkinkan. Bisa sebelum berangkat kerja, setelah anak tidur, saat menunggu kendaraan umum, atau pada waktu lain yang paling mungkin kamu pertahankan.
Jangan bertanya, “Kapan aku punya waktu kosong?”
Coba ubah menjadi:
“Waktu kecil mana yang bisa kusisihkan untuk menulis?”
Perbedaannya sederhana, tetapi cara berpikirnya berubah.
2. Buat jadwal yang sanggup kamu jalani
Kamu tidak harus menulis setiap hari jika itu justru membuatmu kewalahan. Tiga kali seminggu selama 30 menit, misalnya, bisa lebih realistis daripada memasang target menulis dua jam setiap hari lalu berhenti setelah beberapa hari.
Konsistensi iru bukan tentang seberapa keras kamu memaksa diri. Konsistensi adalah tentang menemukan ritme yang bisa kamu pertahankan.
3. Jangan selalu mengejar jumlah halaman
Ada hari ketika kamu bisa menulis satu halaman. Ada hari ketika hanya satu paragraf yang berhasil diselesaikan. Bahkan, mungkin suatu hari kamu hanya membuat catatan tentang ide yang tiba-tiba muncul.
Tetap lakukan hal itu.
Menulis tidak selalu berarti menghasilkan halaman final. Membuat kerangka, mencatat gagasan, mencari referensi, atau membaca ulang bagian sebelumnya juga dapat menjaga hubunganmu dengan naskah.
4. Pisahkan menulis dan mengedit
Ketika waktu menulis hanya sedikit, jangan habiskan seluruhnya untuk memperbaiki kalimat yang baru saja dibuat. Tulis dulu. Rapikan kemudian. Dengan begitu, waktu singkat yang kamu punya benar-benar digunakan untuk membuat naskah bergerak.
5. Ingat alasanmu menulis
Di tengah kesibukan, ada kalanya menulis terasa seperti pekerjaan tambahan. Saat itu terjadi, kembali pada alasan awal.
Mungkin kamu ingin menyimpan cerita keluarga. Mungkin ada pengetahuan yang ingin dibagikan. Mungkin sudah lama memiliki impian menerbitkan buku.
Alasan itulah yang akan membuat 15 menit terasa cukup berarti untuk diperjuangkan.
Pada akhirnya, buku tidak selalu lahir dari orang yang punya banyak waktu. Buku sering lahir dari seseorang yang berkali-kali menyediakan sedikit waktu untuk menyelesaikannya.
Jadi, jangan menunggu hidupmu benar-benar kosong untuk mulai menulis. Barangkali waktu yang kamu perlukan sudah ada. Hanya selama ini menulis terlalu kecil untuk dianggap penting.
Lima belas menit hari ini. Tiga puluh menit lusa. Satu halaman akhir pekan nanti.
Sedikit demi sedikit, naskahmu bergerak.
Dan suatu hari, kamu mungkin akan melihat kembali halaman pertama itu sambil berkata, “Ternyata aku benar-benar menyelesaikannya.”
Punya teman yang sering berkata ingin menulis, tetapi selalu merasa tidak punya waktu? Bagikan artikel ini kepadanya. Siapa tahu, ia tidak membutuhkan waktu lebih banyak. Mungkin temanmu itu hanya perlu keberanian untuk mulai dari waktu yang sedikit. []
Bagikan kepada teman
