Bacaan seputar menulis dan literasi
Tips praktis dan cerita seputar dunia menulis, untuk menemanimu satu langkah lebih dekat menerbitkan buku.
Menulis Kisah Keluarga Tanpa Takut Terlalu Personal
Tips menjaga privasi orang terdekat sambil tetap lugas dalam menulis kisah keluarga
Estimasi waktu baca: 3 menit

Ada cerita keluarga yang ingin kita tulis, tetapi selalu tertahan oleh satu pertanyaan: “Kalau mereka membaca tulisan ini, bagaimana dengan perasaan mereka?”
Kekhawatiran itu wajar. Sebab, kisah keluarga hampir tidak pernah hanya berisi satu orang. Ketika menulis tentang masa kecil, orang tua, pasangan, saudara, atau anak, kita juga sedang menyentuh kehidupan orang lain.
Lalu, apakah kita harus menyimpan semua cerita itu?
Tidak juga. Menulis dengan jujur tidak berarti harus menceritakan semuanya.
Dalam pembahasan tentang etika memoir, persoalan seperti privasi, potensi kerugian, pengkhianatan kepercayaan, dan penggunaan pengalaman orang lain memang perlu dipertimbangkan. Namun, kebebasan bercerita dan tanggung jawab kepada orang lain juga perlu berjalan beriringan.
Lantas, bagaimana caranya?
Mulailah dari pengalamanmu sendiri
Alih-alih sibuk menilai seseorang, ceritakan apa yang kamu alami dan rasakan. Misalnya, daripada menulis “Ayahku adalah orang yang keras,” kamu bisa menceritakan bagaimana sikap Ayah membuatmu belajar berhati-hati ketika berbicara atau bagaimana hubungan itu membentuk dirimu. Dengan begitu, tulisan tetap lugas tanpa berpura-pura mengetahui seluruh isi hati atau kehidupan orang lain.
Tidak semua yang benar harus ditulis
Ini mungkin bagian yang paling sulit. Sebuah fakta bisa saja benar, tetapi belum tentu perlu diketahui pembaca. Sebelum memasukkan detail yang sangat pribadi, tanyakan:
Apakah informasi ini membantu cerita?
Kalau jawabannya tidak, kamu punya alasan untuk menyimpannya. Terutama ketika menyangkut kondisi kesehatan, konflik rumah tangga, masalah keuangan, pengalaman traumatis, atau persoalan pribadi lainnya. Pertimbangkan kembali dampaknya sebelum menjadikannya konsumsi publik.
Pertimbangkan orang yang ada di dalam cerita
Coba bayangkan orang tersebut membaca tulisanmu. Cara ini bukan untuk membuatmu takut menulis, tetapi untuk melihat cerita dari sudut pandang lain.
Jika memungkinkan, bicarakan bagian yang sangat sensitif dengannya. Mengajak berdiskusi atau meminta persetujuan dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap orang yang kisah hidupnya ikut masuk ke dalam bukumu. Namun, menjaga privasi tidak selalu berarti sekadar mengganti nama. Seseorang tetap bisa dikenali melalui pekerjaan, tempat, hubungan, atau rangkaian peristiwa tertentu.
Tanya dirimu sekali lagi
Sebelum menekan tombol publish, tanyakan:
“Aku sedang membagikan pengalaman untuk menemukan makna, atau sedang menggunakan tulisan untuk membalas seseorang?”
Pertanyaan sederhana ini bisa mengubah cara kita menulis. Sebab, buku keluarga yang baik tidak harus membuka seluruh rahasia keluarga. Buku memoir cukup menyisakan kejujuran yang diperlukan untuk membuat pembaca memahami pengalaman, sekaligus kebijaksanaan untuk mengetahui bagian mana yang sebaiknya tetap menjadi milik keluarga.
Kisahmu tetap berharga. Kamu hanya perlu memilih cara menceritakannya dengan bijak.
Punya teman atau keluarga yang sedang menulis kisah hidupnya? Bagikan artikel ini kepada mereka. Barangkali, tulisan ini bisa membantu mereka menemukan keberanian untuk bercerita tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang-orang yang mereka cintai. []
Bagikan kepada teman
