Bacaan seputar menulis dan literasi
Tips praktis dan cerita seputar dunia menulis, untuk menemanimu satu langkah lebih dekat menerbitkan buku.
Kenapa Setiap Keluarga Punya Buku yang Layak Ditulis
Estimasi waktu baca: 4 menit

Pernahkah kamu mendengar cerita orang tua tentang masa kecilnya, lalu baru menyadari bahwa ternyata cerita itu jauh lebih menarik daripada yang selama ini kamu bayangkan?
Mungkin tentang rumah yang pernah mereka tinggali. Tentang perjalanan merantau. Tentang bagaimana mereka bertemu. Tentang usaha kecil yang pernah dijalankan. Atau tentang satu peristiwa sederhana yang sampai sekarang masih sering mereka ceritakan.
Bagi keluarga, cerita itu mungkin sudah terlalu biasa. Namun, justru karena terlalu sering didengar, kita kadang lupa bahwa suatu hari nanti cerita tersebut bisa hilang.
Setelah membaca artikel ini, kamu akan menemukan:
- mengapa cerita keluarga tidak harus spektakuler untuk layak ditulis;
- bagaimana pengalaman sehari-hari dapat berubah menjadi cerita yang bermakna;
- apa yang membuat kisah pribadi bisa memiliki makna universal; dan
- satu contoh nyata dari buku yang lahir dari pengalaman sebuah keluarga.
Mari kita mulai dari satu hal sederhana: tidak semua cerita yang berharga terasa istimewa ketika kita menjalaninya.
Cerita Biasa yang Menjadi Berarti
Kita mungkin menganggap percakapan di meja makan sebagai hal sepele. Nasihat ibu sebelum berangkat sekolah. Cerita ayah tentang pekerjaannya. Doa yang selalu diucapkan nenek. Kebiasaan keluarga setiap Lebaran. Bahkan pertengkaran kecil yang akhirnya membuat kita belajar saling memahami.
Semua itu adalah bagian dari sejarah keluarga.
Masalahnya, kita sering baru menyadari nilainya ketika orang yang biasa menceritakannya sudah tidak ada atau ketika detailnya mulai terlupakan.
Menulis menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan cerita tersebut. Bukan agar keluarga kita terlihat hebat, tetapi agar pengalaman yang pernah membentuk kita tidak berhenti sebagai kenangan yang samar.
Tidak Harus Menjadi Keluarga Terkenal
Untuk menulis buku tentang keluarga, kamu tidak perlu memiliki kisah yang luar biasa.
Kamu tidak harus berasal dari keluarga tokoh terkenal. Tidak harus punya perjalanan hidup yang dramatis. Bahkan, tidak perlu menunggu mengalami peristiwa besar.
Yang dibutuhkan adalah cerita yang memiliki makna.
Kisah tentang seorang ibu yang bertahun-tahun berjualan untuk menyekolahkan anaknya, misalnya, mungkin terasa biasa bagi keluarga tersebut. Tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang melakukan hal serupa, cerita itu bisa menjadi penguat.
Di sinilah cerita pribadi bertemu dengan pengalaman pembaca.
Belajar dari Celoteh Surga
Salah satu contoh menarik adalah Celoteh Surga karya Budiyana, yang diterbitkan oleh CV Literasi Karya Budi.
Buku ini lahir dari pengalaman seorang ayah berinteraksi dengan Aiman, anak berkebutuhan khusus (ABK). Kisah-kisah di dalamnya berangkat dari pengalaman keluarga: percakapan, doa, nasihat sederhana, dan berbagai momen sehari-hari bersama Aiman.
Jika dilihat sekilas, mungkin itu hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Namun, ketika dituliskan, pengalaman tersebut membuka ruang refleksi yang lebih luas. Pembaca diajak memikirkan kembali tentang kesabaran, rasa syukur, doa, penerimaan terhadap perbedaan, dan cara kita memandang kehidupan.
Inilah yang membuat sebuah cerita keluarga menjadi menari. Pengalamannya boleh sangat personal, tetapi maknanya bisa menjadi universal.
Aiman tidak perlu menjadi tokoh terkenal agar kisahnya berarti. Begitu pula keluargamu.
Mungkin Bukumu Sudah Ada di Rumah
Coba lihat kembali keluargamu.
Cerita apa yang selama ini hanya diceritakan berulang-ulang? Kisah siapa yang selalu membuat keluarga tertawa? Perjuangan apa yang pernah dilalui bersama? Nilai apa yang selalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Mungkin, tanpa kamu sadari, bahan bukumu sudah ada di sana.
Tugasmu bukan membuat kehidupan keluargamu terlihat luar biasa. Tugasmu adalah mendengarkan, mengingat, mencatat, dan menemukan makna di balik cerita-cerita itu.
Sebab, cerita sehari-hari yang kamu anggap biasa, bisa jadi pelita bagi orang lain.
Dan barangkali, suatu hari nanti, seseorang dalam keluargamu akan berterima kasih karena kamu memilih untuk tidak membiarkan cerita itu hilang.
Kalau kamu teringat pada satu cerita keluargamu setelah membaca tulisan ini, jangan buru-buru melupakannya. Tuliskan.
Lalu, bagikan artikel ini kepada anggota keluarga atau teman yang mungkin juga menyimpan cerita yang layak diabadikan. Bisa jadi, tulisan sederhana ini menjadi alasan seseorang mulai menulis buku pertamanya. []
Bagikan kepada teman
