Celoteh Jiwa: Teman Bicara untuk Jiwa yang Lelah Berlari

33 esai pendek, satu ajakan: berhenti sejenak, jujur pada diri sendiri, lalu pulang dengan hati lapang.

Pernahkah kamu merasa semua orang melaju kencang, sementara kamu hanya ingin duduk tenang dan bertanya, “Sebenarnya aku sedang mengejar apa?”

Celoteh Jiwa karya @ahlansukma (Sukmawati) lahir dari pertanyaan semacam itu. Ia bukan buku motivasi yang lantang berteriak dan bukan pula buku nasihat yang menggurui. Ia lebih mirip teman yang duduk di sebelahmu saat di angkot, di bangku taman, atau di sepertiga malam, lalu bercerita dengan apa adanya. Gaya berceritanya kadang jenaka, kadang menohok, tapi selalu hangat.

Dari Blog Pribadi ke Rak Bukumu

Semuanya bermula pada akhir 2017, dari sebuah catatan di blog pribadi berjudul (Izinkan Aku) Menulis di Jalan Tuhan. Pesan sang mentor untuk dirinya sederhana saja: kerjakan dan tuntaskan. Hingga akhirnya, pada Oktober 2025, catatan-catatan itu menjelma buku perdana. Hasilnya adalah kumpulan renungan yang ditulis tanpa topeng, termasuk pengakuan penulis bahwa ia pernah tergoda ingin populer sebelum meluruskan niat bahwa menulis adalah cara menebar kebaikan.

Empat Pintu Masuk ke Dunia Celoteh Jiwa

Perempuan dan Peradaban. Dari asal kata wanita dan perempuan, semangat Kartini dan Dewi Sartika, hingga cara menahan diri dari belanja impulsif. Ada pula cerita jujur dan jenaka tentang memimpin tim para puan, bekerja di kepanitiaan yang semuanya laki-laki, dan duduk di ruang rapat bersama bapak-bapak.

Spiritualitas dan Keimanan. Rasa syukur dibedah menjadi lima tingkatan, lengkap dengan latihan yang bisa kamu coba malam ini juga, dari jurnal syukur sampai gratitude jar. Lalu hadir Apakah Kau Cemburu Padaku?, sebuah monolog yang membuat kita menoleh pada ponsel di genggaman dan bertanya: waktu terbaikku sebenarnya kuberikan untuk siapa?

Renungan Sosial. Angkot, bus kota, kafe, linimasa Facebook, sampai lagu Efek Rumah Kaca: hal-hal kecil di ruang publik ditarik menjadi pelajaran besar. Yang paling sulit dilupakan adalah Pertemuan dengan Emak, kisah nenek yang tersesat di bus DAMRI, dengan dialog berbahasa Sunda yang membuat hati terasa hangat dan perih sekaligus.

Refleksi Kehidupan. Untukmu yang berada di fase 27+ dan usia 30-an: percakapan tentang arah hidup, makna bahagia, minimalisme yang bertemu qana’ah, dan takdir sebagai lakon dengan Allah sebagai sutradaranya. Ditutup dengan tujuh langkah sederhana untuk melewati hari yang berat, dari menarik napas panjang sampai memeluk diri sendiri sambil berkata, “Terima kasih sudah bertahan.”

Mengapa Layak Masuk Daftar Bacaanmu

  • Jujur, bukan sok bijak. Penulis lebih sering menegur dirinya sendiri daripada menggurui pembaca.
  • Dekat dengan keseharian. Tidak perlu latar belakang khusus. Cukup pernah naik angkot, menggulir layar tanpa tujuan, atau galau tengah malam.
  • Ringkas dan fleksibel. Satu esai cukup dibaca beberapa menit: sebelum tidur, saat menunggu, atau di sela rapat.
  • Berpijak pada bacaan. Dari hadis dan kitab, sejarah perempuan Indonesia, Laporan Kebahagiaan Dunia, hingga musik indie.
  • Mengajakmu ikut menulis. Lembar refleksi di akhir buku menunggu celotehanmu sendiri.

Buku Ini untuk Siapa?

  • Perempuan muda dan dewasa muda yang sedang mempertanyakan arah hidup.
  • Pembaca esai reflektif bernuansa spiritual yang ringan dan tidak menggurui.
  • Pegiat literasi dan penulis pemula yang ingin melihat catatan harian menjadi buku.
  • Siapa pun yang butuh jeda dari layar dan keramaian.

Pesan dari Penulis

Sukma menutup bukunya dengan keyakinan yang manis. Kalau buku ini sampai di tanganmu, kamu bukan sekadar pembaca, melainkan teman cerita. Jadi bacalah, renungkan, lalu tuliskan celotehanmu sendiri.

Tentang Penulis

Sukmawati (Sukma) lahir di Bandung pada 1993 dan lulus dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran pada 2016. Ia pernah menjadi penyiar, lalu pustakawan paruh waktu, editor, dan pegiat literasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Kota Bandung periode 2024-2026 dan bersama alumni Forum Indonesia Muda Bandung menginisiasi gerakan 22 Hari Baca Buku (#22HBB) sejak akhir 2022. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @ahlansukma dan blog pribadinya di ahlansukma.wordpress.com.

Dapatkan Bukunya

Siap berceloteh bersama jiwamu? Pesan Celoteh Jiwa sekarang.

  • Judul: Celoteh Jiwa
  • Penulis: @ahlansukma (Sukmawati)
  • Penerbit: CV Literasi Karya Budi (Anggota IKAPI), Bandung
  • Cetakan: I, Oktober 2025 | viii + 148 halaman
  • ISBN: 978-623-5785-06-6

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top