Bacaan seputar menulis dan literasi
Tips praktis dan cerita seputar dunia menulis, untuk menemanimu satu langkah lebih dekat menerbitkan buku.
5 Langkah Memulai Naskah Pertamamu
Estimasi waktu baca: 4 menit

Pernah membuka laptop, menatap halaman kosong, lalu tidak tahu harus menulis apa?
Ide sebenarnya ada. Bahkan mungkin sudah lama tersimpan di kepala. Namun, begitu hendak dituangkan menjadi naskah, tiba-tiba semuanya terasa kabur. Mau mulai dari judul? Kata pengantar? Bab pertama? Atau menunggu sampai mood menulis datang?
Tenang, kamu tidak sendirian. Banyak penulis pemula justru berhenti bukan karena kehabisan ide, melainkan karena bingung menentukan langkah pertama.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu menunggu merasa siap untuk mulai menulis. Cobalah lima langkah sederhana berikut.
Setelah membaca artikel ini, kamu akan menemukan cara untuk:
- memilih satu ide yang paling layak dikembangkan;
- menentukan siapa yang ingin kamu ajak berbicara melalui tulisan;
- menemukan benang merah dari ide yang berserakan;
- membuat peta sederhana sebelum menulis; dan
- memulai draf tanpa sibuk mengejar tulisan yang sempurna.
Mari mulai dari hal yang paling sederhana.
1. Pilih satu ide
Tidak semua ide harus menjadi buku.
Jika saat ini kepalamu dipenuhi banyak gagasan, jangan buru-buru mengembangkannya semua. Pilih satu yang paling dekat dengan pengalaman, pengetahuan, atau kegelisahanmu.
Tanyakan kepada diri sendiri: “Hal apa yang paling ingin aku ceritakan atau bagikan kepada orang lain?”
Tidak harus ide yang paling hebat. Untuk naskah pertama, ide yang cukup dekat denganmu justru bisa menjadi tempat yang baik untuk belajar.
2. Tentukan pembacamu
Setelah menemukan ide, bayangkan seseorang yang akan membaca tulisanmu.
Siapa dia? Apa yang sedang ia alami? Apa yang ingin ia ketahui? Masalah apa yang mungkin ingin ia pecahkan melalui bukumu?
Pertanyaan sederhana ini akan membantumu menentukan cara bercerita. Sebab, menulis bukan hanya tentang apa yang ingin kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana pembaca dapat menerima dan merasakan apa yang kita sampaikan.
3. Temukan benang merah
Ide yang bagus bisa berantakan jika semuanya ingin dimasukkan.
Coba tuliskan semua hal yang ingin kamu bahas. Setelah itu, lihat kembali daftar tersebut. Adakah beberapa gagasan yang sebenarnya saling berhubungan?
Kelompokkan gagasan yang serupa. Dari sana, kamu mungkin mulai melihat pola: sebuah pengalaman, persoalan, pertanyaan, atau pesan utama yang menghubungkan semuanya.
Itulah benang merah bukumu.
4. Buat peta buku
Sekarang, jangan langsung menulis halaman pertama. Buatlah peta sederhana.
Tuliskan kira-kira lima sampai sepuluh bagian yang ingin kamu bahas. Tidak perlu menggunakan judul bab yang sempurna. Cukup tuliskan gagasan utamanya.
Misalnya:
Bab 1: Mengapa kita takut memulai?
Bab 2: Mengenali hambatan diri
Bab 3: Menemukan cara untuk mulai menulis
Bab 4: Menjaga kebiasaan
Bab 5: Menyelesaikan tulisan pertama
Peta ini bukan aturan yang tidak boleh diubah. Ia hanya kompas agar kamu tidak mudah tersesat ketika mulai menulis.
5. Tulis draf pertama—jangan sempurnakan
Ini mungkin bagian yang paling sulit: mulailah menulis meskipun belum sempurna.
Draf pertama memang boleh berantakan. Ada kalimat yang terasa janggal, paragraf yang terlalu panjang, bahkan bagian yang nanti ternyata harus dihapus. Tidak apa-apa.
Jangan meminta draf pertama melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan revisi.
Tugasmu sekarang hanya satu: menyelesaikannya.
Setelah seluruh gagasan tertuang, barulah kamu bisa kembali membaca, memperbaiki struktur, menghilangkan bagian yang berulang, dan merapikan bahasa.
Sebab, tulisan yang belum selesai tidak bisa direvisi.
***
Memulai naskah pertama ternyata tidak harus menunggu inspirasi besar datang. Kamu bisa memulainya dari satu ide kecil, satu pembaca yang ingin kamu ajak bicara, dan satu langkah yang bisa dilakukan hari ini.
Jadi, setelah membaca artikel ini, jangan langsung menutup laptop.
Ambil kertas atau buka dokumen baru. Tuliskan satu ide yang selama ini berputar di kepalamu. Kemudian tanyakan: “Kalau ide ini menjadi buku, siapa yang ingin kubantu melalui tulisan ini?”
Mungkin hari ini kamu belum menghasilkan satu bab penuh. Tidak masalah.
Yang penting, naskah pertamamu sudah dimulai.
Kalau tulisan ini membantumu menemukan keberanian untuk memulai, bagikan kepada teman yang juga sedang berjuang menyelesaikan naskah pertamanya. Bisa jadi, satu kali kamu menekan tombol bagikan, ada seseorang yang akhirnya berani membuka halaman kosongnya sendiri. []
Bagikan kepada teman
