Cerita Penulis

Bacaan seputar pengalaman menulis

Kisah nyata dari penulis-penulis yang kami temani, bagaimana satu keputusan kecil bisa menjadi awal dari sebuah buku.

Dari Bilekere ke Ruang Literasi: Perjalanan M. Rusli Nasir Menemukan Makna dalam Menulis

Setiap penulis memiliki jalan yang berbeda untuk sampai pada sebuah buku. Bagi M. Rusli Nasir, perjalanan itu berawal dari sebuah kampung sederhana bernama Bilekere, di bagian selatan Desa Ubung, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Lahir 41 tahun silam dari pasangan Muh. Nasir dan Suhaini, Rusli tumbuh dalam keluarga petani dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Kedua orang tuanya bahkan tidak sempat menamatkan pendidikan dasar. Namun, keterbatasan pendidikan dan keadaan ekonomi tidak membuat keduanya kehilangan pandangan tentang masa depan. Dengan kerja keras dan keyakinan yang kuat, mereka percaya bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kualitas hidup seseorang.

Keyakinan itulah yang kemudian mengantarkan Rusli menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Selaparang, Kediri, Lombok Barat. Pendidikan Sanawiah, Aliah, hingga Ma’had diselesaikannya di pesantren tersebut. Dari tempat yang sama pula, perjalanan pengabdiannya sebagai pendidik dimulai.

Kini, Rusli mengabdikan diri sebagai guru dan dalam empat tahun terakhir dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Madrasah Aliyah Selaparang. Di tengah kesibukannya mendidik dan mengelola madrasah, tumbuh kesadaran bahwa ada banyak gagasan, pengalaman, dan tulisan yang selama ini masih berserakan. Ia merasa tulisan-tulisan tersebut perlu dirawat, dihimpun, dan dihadirkan dalam bentuk buku agar dapat menjadi jejak yang lebih panjang.

Kesadaran sederhana itulah yang mempertemukan Rusli dengan Literasi Karya Budi (LKB).

Bagi Rusli, LKB bukan sekadar tempat mencetak buku. Ia menyebutnya sebagai “cantolan keberkahan” dalam perjalanan kepenulisannya. Melalui LKB, sejumlah tulisan yang sebelumnya terserak akhirnya menemukan bentuk dan menjadi karya yang dapat dibaca lebih luas.

Tiga buku telah lahir dari perjalanan tersebut: Rindu Ayah Membengkil (Sebuah Memoar), Pesona Selaparang (Muara Keberkatan, Akhlak dan Ilmu Bening), dan TGB Sempena Maulana (Dakwahnya Menyusuri Timur dan Barat Nusantara).

Ketiga buku itu menjadi bagian penting dari perjalanan Rusli sebagai penulis. Bukan hanya karena berhasil mengubah tulisan menjadi buku, tetapi juga karena setiap karya membawa pengalaman, ingatan, nilai, dan gagasan yang ingin diwariskan kepada pembaca.

Di tengah kesibukannya sebagai pendidik dan pemimpin madrasah, perjalanan M. Rusli Nasir mengingatkan kita tentang proses dalam menulis. Bahwa menulis tidak selalu membutuhkan ruang dan waktu yang sempurna. Menulis justru dimulai dari kesadaran untuk menyelamatkan gagasan yang telah lama hidup dalam pikiran dan pengalaman.

Dari Bilekere, dari keluarga petani yang menanamkan keyakinan pada pentingnya pendidikan, hingga menjadi pendidik dan penulis, perjalanan Rusli adalah cerita tentang bagaimana keterbatasan tidak harus menjadi batas.

Bagi Literasi Karya Budi, menjadi bagian dari perjalanan tersebut adalah sebuah kehormatan. Semoga karya-karya M. Rusli Nasir terus menjadi jejak kebaikan, dan semoga langkah kepenulisannya terus tumbuh, menginspirasi, serta memberi manfaat bagi lebih banyak pembaca.

Ingin mengenal lebih jauh atau menghubungi Rusli Nasir? Silakan kontak melalui DM Instagram @rusli.nasir.18.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top